Jatuh Bangun Ekonomi dan Implikasinya terhadap Stagnasi Sains Islam

0
470

KLIKACEH, ARTIKEL : Kompleksitas masalah yang ditemui dewasa ini memaksa kita untuk mencari akar permasalahan, baru kemudian mencari solusi. Pada umumnya, permasalahan dewasa ini berkaitan dengan kebutuhan manusia terhadap sains. Sayangnya, seperti dilansir dari berbagai media, negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam tertinggal oleh negara-negara Barat dalam berbagai aspek. Terutama sains.


Disadari atau tidak, terdapat hal yang mungkin dilupakan, bahwa stagnasi sains Islam merupakan salah satu implikasi jatuhnya ekonomi Islam pada masa itu. Memang ekonomi dengan sains dianggap dua hal yang berbeda, akan tetapi keduanya berkesinambungan. Hal ini dibuktikan dengan stagnasi dan kemunduran sains di dunia Islam setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah pada abad ke-13. Namun, banyak pula cendekiawan muslim yang mengemukakan pendapat bahwa faktor utama stagnasi dan kemunduran sains dalam Islam adalah kejumudan berpikir atau cara berpikir statis. Seperti Muhammad Abduh yang berpendapat bahwa faktor utama stagnasi dan kemunduran sains dalam Islam adalah kejumudan berpikir.


Albert Arlt mengatakan bahwa budaya menjadi kunci bagi masyarakat untuk saling mengerti. Pendapat semacam ini menguatkan pendapat sebelumnya, bahwa kejumudan berpikir menjadi faktor utama stagnasi sains Islam. Namun, ekonomi tetap saja menariki perhatian untuk dibahas. Kejumudan berpikir memang menjadi salah satu faktor stagnasi sains di dunia Islam, namun runtuhnya ekonomi lebih besar pengaruhnya terhadap sains di dunia Islam karena tidak ada lagi pendanaan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan penelitian dan penerjemahan.


Ekonomi dan Sains, apa Hubungannya?
Dalam pergerakannya, ekonomi mengalami jatuh bangun yang ternyata berimplikasi pada maju-mundurnya sains dalam Islam. Pasalnya, para ekonom mengembangkan teori pembangunan yang didasarkan pada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan, yang kemudian dikenal dengan istilah invesment in human capital. Pada intinya, teori ini menyatakan bahwa faktor pendukung utama pembangunan adalah tingkat pendidikan masyarakat. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusianya, semakin tinggi pula tingkat produktivitas negara tersebut. Dari sini jelas bahwa ekonomi memiliki keterkaitan yang erat dengan sains.


Jatuh bangun ekonomi Islam memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan sains di dunia Islam. Karena dengan adanya anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk mengembangkan sains, semakin gencar pula sains ditemukan, diteliti, bahkan dikembangkan. Seperti yang terjadi pada masa kejayaan dinasti Abbasiyah, di mana khalifahnya mengadakan penerjemahan besar-besaran demi meningkatkan tingkat literasi di Baghdad. Ekonomi berasal dari kata oikonomia dalam bahasa Greek atau Yunani yang berarti aturan rumah tangga. Secara terminologis, ekonomi adalah kajian tentang perilaku manusia dalam hubungan dengan pemanfaatan sumber-sumber prospektif yang langka untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa serta mendistribusikannya untuk dikonsumsi. Sedangkan sains berasal dari kata scientia dalam bahasa Latin yang berarti pengetahuan. Secara terminologis, sains adalah cara mempelajari berbagai aspek secara terorganisir, sistematik, dan melalui berbagai metode saintifik yang baku.


Implikasi Ekonomi pada Sains Islam di Masa Lalu
Telah diketahui bahwa meskipun objek kajian ekonomi dan sains berbeda, ekonomi memiliki peran penting dalam pertumbuhan sains. Begitu pun sebaliknya. Sains Islam mengalami kejayaan bersamaan dengan kejayaan Islam. Muslim nonsejarawan akan menganggap bahwa Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa Nabi Muhammad, padahal puncak kejayaan Islam adalah pada abad ke-9 sampai abad ke-12 M yaitu pada masa Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah dikenal sebagai The Patrons of Knowledge (sponsor ilmu pengetahuan).


Kemajuan sains pada masa Dinasti Abbasiyah utamanya dipelopori oleh dua khalifah yang berkontribusi besar terhadap sains, yakni Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun. Khalifah Harun Ar-Rasyid yang terkenal dengan gaya hidup mewahnya—seperti digambarkan dalam cerita Seribu Satu Malam (Alfu Lailah wa Lailah)–banyak mempergunakan kekayaannya untuk sains. Berkuasa sejak 785 sampai 809 M, ia cukup memberi perhatian terhadap sains, ia mendanai pendidikan dokter untuk mendukung sains pada masa itu.


Khalifah Al-Makmun pada masa jabatannya, 813 sampai 833 M, memberi perhatian penuh pada dunia sains. Ialah yang membangun Baitul Hikmah dan beberapa sekolah di Baghdad. Ia berkontribusi penuh pada perkembangan sains Islam. Bahkan, ia menggaji para penerjemah dari agama lain seperti Kristen untuk menerjemahkan buku-buku sains dari Yunani. Penerjemahan ini berlangsung kurang lebih satu abad dan memerhatikan berbagai cabang ilmu; matematika, kedokteran, fisika, optika, geografi, astronomi, filsafat, dan sejarah.
Meninggalkan masa kejayaan (The Golden Age)nya, sains di dunia Islam dirasa semakin tidak mendapat tempat dan tampak ada cultural decline (kemunduran peradaban) karena pengetahuan non-Islam tidak menjadi perhatian lagi di dunia Islam.


Dalam bukunya, Samsul Munir Amin mengutip pendapat Badri Yatim yang menegaskan bahwa Dinasti Abbasiyah mengalami kemerosotan ekonomi bersamaan dengan kemunduran politik. Setelah dihancurkan pada 1258, pendapatan negara menurun sehingga setelah kehancuran Baitul Hikmah sebagai gudang ilmu yang telah dibumihanguskan tak bisa dibangun kembali.
Keruntuhan Dinasti Abbasiyah yang mencuri banyak perhatian, menjadikan masa-masa pasca Dinasti Abbasiyah (1258 – sekarang) juga disoroti dunia. Pada masa ini, terjadi pergeseran kekuasaan ke Turki. Dan sejak itulah sains di dunia Islam mengalami kemunduran. Hematnya, setelah ekonomi Islam mengalami kemunduran, semakin berkuranglah perhatian terhadap penelitian dan penerbitan yang bersifat ilmiah.

Bagaimana jika Islam Ingin Kembali Maju?
Di luar sana, banyak ilmuwan yang mencari jalan keluar dari keterpurukan yang dialami Islam. Jalan keluar yang digunakan pun beragam, sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Para ekonom ingin mengembalikan kejayaan ekonomi Islam pada masa itu dalam kaitannya dengan pengembangan sains dalam Islam.


Untuk meningkatkan kualitas ekonomi guna memajukan peradaban, khususnya sains, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh umat Islam. Pertama, mekanisme penyaringan yang disetujui umum (socially-agreed filter mechanism). Dengan adanya sistem ini, dipastikan sistem ekonomi tersaring dan tidak sembarang sistem bisa masuk dalam sistem ekonomi Islam. Kedua, sistem motivasi yang kuat (strong motivating system) untuk menstimulasi individu untuk berkarya sesuai ketertarikannya masing-masing.


Ketiga, mengatur ulang seluruh ekonomi (restructuring of the whole economy) agar sesuai dengan maqashid al-syariah. Dan yang keempat, ekonomi haruslah berorientasi pada tujuan yang positif dan kuat dalam perannya membangun negara (positive and strong goal-oriented).
Kesimpulan
Ekonomi Islam sesungguhnya mampu membantu memajukan dunia sains, setidaknya ada langkah yang ditempuh, meskipun sedikit kemungkinannya untuk bisa menandingi sains di Barat. Yaitu dengan melakukan beberapa strategi yang ada. Dianggap sebagai dua disiplin ilmu yang tidak memiliki korelasi, ekonomi dan sains ternyata memiliki hubungan yang erat. Peran ekonomi dalam dunia sains adalah memberi pendanaan untuk riset, penerjemahan, dan pengembangan saintifik lainnya. Sedangkan peran sains dalam dunia ekonomi adalah meningkatkan produktivitas para individu dalam membangun perekonomian.


Stagnasi sains di dunia Islam banyak menuai perhatian karena menjadi topik yang selalu dicari-cari akar masalah dan solusinya. Beberapa ahli mengemukakan pendapat tentang faktor terjadinya stagnasi sains dalam Islam. Beberapa ahli mengatakan bahwa faktor utamanya adalah kejumudan berpikir, beberapa lainnya mengatakan bahwa faktor eksternal (seperti halnya jatuhnya kekuasaan Abbasiyah di tangan Hulagu Khan dan jatuhnya ekonomi). Faktor jatuhnya ekonomi menjadi sorotan dalam pembahasan ini. Ditilik dari periodisasi ekonomi dan sains, stagnasi sains di dunia Islam bersamaan dengan runtuhnya ekonomi Islam di masa lalu.


Pun jika kejumudan berpikir menjadi faktor stagnasi, mengapa tidak diadakan pendanaan saja agar para cendekia di masa itu kembali bergairah untuk mengembangkan sains? Inilah pengaruh jatuhnya ekonomi pada stagnasi sains di dunia Islam. Karena ketiadaan pendanaan untuk sebuah penelitian ilmiah, para cendekia kehilangan ruang untuk meneliti sains. Hal ini bukan mengindikasikan bahwa orientasi para ilmuwan hanyalah materi, mengingat biaya yang diperlukan untuk melakukan sebuah penelitian tidaklah sedikit jumlahnya. Terbukti setelah jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu Khan dan anggaran negara menurun, tidak ada lagi kontribusi pemerintah dalam pengembangan sains.


Maka dapat disimpulkan bahwa setelah ekonomi Islam mengalami kemunduran, semakin berkuranglah perhatian terhadap penelitian dan penerbitan yang bersifat ilmiah karena tidak ada lagi pendanaan dari para khalifah.

Tamira Sevila Anjani

Bahasa dan Sastra Arab
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BERIKAN KOMENTAR

Silahkan beri komentar anda
Silahkan ketik nama anda disini