Berkunjung ke Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

0
1256

Klik Aceh, Tangerang : Berdirinya Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang terletak di Ruko Golden Road BSD C 33 Nomor 78, Serpong, Tangerang Selatan berawal dari koleksi pribadi yang telah dikumpulkan semenjak tahun 1999.

“Koleksi museum adalah koleksi pribadi, yang mulai dikumpulkan sejak tahun 1999 “ ujar Pendiri Museum, Azmi Abubakar, Minggu (01/09/2018).

Berawal dari kerusuhan Mei tahun 1998 memanggil Azmi Abubakar untuk serius mengumpulkan buku-buku sejarah etnis  Tionghoa.

“Latar belakang mengapa saya mengoleksi buku2 tentang Etnis Peranakan Tionghoa, adalah terjadinya peristiwa kerusuhan Mei 1998, dimana saudara kita dari etnis Tionghoa mengalami tindakan yang diluar prikemanusiaan, juga berbagai tindakan yang tak akan dapat kita tolerir dengan dalih apapun “ lanjut pria berdarah Gayo Aceh ini.

Berkunjung ke Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Pendiri Museum Etnis Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar. (Foto :Ist)

Keberadaan Museum Pustaka Peranakan Tionghoa diharapkan menjawab minimnya berbagai pengetahuan peran dan jasa etnis Tionghoa.

“ Satu identifikasi saya, untuk menjawab mengapa peristiwa itu terjadi, adalah akibat dari minimnya informasi perihal peran dan jasa etnis Tionghoa di Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan “ rincinya.

Museum ini awalnya bertujuan menjadi sumber pengetahuan untuk masyarakat umumnya namun dalam perjalannya juga menjadi tujuan etnis Tinghoa dalam menggali informasi.

“ saya pada tahun 2011 mulai membuka akses informasi kepada masyarakat luas, tentang peran dan jasa etnis Tionghoa di indonesia

Sebetulnya, saya menargetkan saudara2 sebangsa dari bukan etnis tionghoa sebagai pengunjung museum, tapi dalam perjalanannya, justru kalangan tionghoa pun banyak berdatangan “ tuturnya.

Hingga saat ini keberadaan museum bersumber dari pembiayaan pribadi tanpa bantuan dari pihak manapun.

“Sejak didirikan 2011 sampai saat ini, saya sengaja menolak segala bantuan keuangan dari siapapun dengan dalih apapun. Saya dan istri bersepakat ingin memberi bukan malah diberi, ini filosofi yang masih coba kami pertahankan “tandasnya. (BAS)

BERIKAN KOMENTAR

Silahkan beri komentar anda
Silahkan ketik nama anda disini